Friday, November 20, 2015

Filled Under:

Definisi Makna Syariat dalam Ajaran Tasawuf

www.majeliswalisongo.com - Pengertian Syariat Dalam Perspektif Tasawuf - Definisi Syariat menurut Ilmu Tasawuf - Penjelasan Mengenai Syariat dalam Tinjauan Tasawuf - Syaikh Mahmud Syaltut mengatakan bahwasanya Syariat adalah hukum-hukum (tata aturan) yang diciptakan oleh Allah atau yang diciptakan pokok-pokoknya supaya manusia berpegang kepadanya di dalam hubungannya kepada Allah, alam semesta, dan keseluruhan hidup. Berikut penjelasan beliau dalam bahasa Arabnya:
Pengertian Syariat Dalam Perspektif Tasawuf
Pengertian Syariat Dalam Perspektif Tasawuf

الشريعة هي النظام التي شرعها الله او شرع اصولها ليأخذ الإنسان بها نفسه في علا قته بربه وعلا قته بأخيه المسلم و علاقته بأخيه الإنسان و علاقته بالكون وعلاقته با لحياة

Dalam keterangan lain, At-Tahanawi dalam kitabnya Al-Kasysyaf Isthihatil Funun mengatakan sebagai berikut:

الشريع ما شرع الله تعالي لعباده من الأحكام التي جاء النبي من الأنبياء و علي نبينا سواء كانت معلقة بكيفية عمل و تسمي فرعية و دون لها الفقه او بكيفية الإعتقاد و تسمي اصلية واعتقادية و دون لها علم الكلام
Artinya: "Syariat adalah hukum-huku yang diadakan oleh Allah yang di bawah salah satu nabiNya, termasuk nabi Muhammad, baik hukum yang berkaitan dengan cara berbuat yang disebut fariyyah amaliyah yang di dalamnya terhimpun dalam ilmu fiqih, maupun yang berkaitan dengan kepercayaan yang disebut dengan ashliyah atau i'tiqadiyah yang di dalamnya terhimpun dalam ilmu kalam."

Kedua definisi tentang syariat tersebut sesungguhnya memberikan suatu kejelasan bahwa syariat adalah merupakan doktrin ilahi yang tanpa ada campur tangan sama sekali dari manusia. Syariat adalah merupakan made in Allah asli. Manusia tidak diberi hak sedikitpun untuk membuat syariat itu. Manusia hanya diberi kewajiban untuk melaksanakan apa yang telah disyariatkan kepadanya, berkewajiban untuk memegang teguh aturan-aturannya, sebab sesungguhnya adanya syariat itu diperuntukkan bagi kehidupan manusia dan demi kebahagiaannya di dunia maupun di akhirat kelak.

Adalah sudah barang tentu jika seorang hamba telah dengan ikhlas hati melaksanakan apa yang telah disyariatkan kepadanya itu menandakan bentuk kepatuhannya kepada Allah. Tetapi sebaliknya, jika seorang hamba telah dengan sengaja tidak mengindahkan apa-apa yang telah menjadi syariat yang telah dibebankan kepadanya, itu berarti menandakan pembangkangannya kepada Allah. Di sinilah sesungguhnya letak sebenarnya dari inti ibadah itu. Dalam syariat yang merupakan hukum atau aturan sesungguhya di dalamnya tercantum secara terinci akan hal-hal yang merupakan perintah untuk dilaksanakan dan juga berisi tentang berbagai hal larangan yang harus dijauhi. Jika seorang hamba telah berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan perintahNya dan sebisa mungkin meninggalkan laranganNya, maka di sinilah ia telah memposisikan dirinya sebagai abid atau seorang hamba yang tengah mengabdi dalam bentuk ibadaha. Seorang hamba yang demikian, di jauh kedalaman hatinya sesungguhnya tertanam satu perasaan bahwa dirinya itu hina sebagai seorang hamba dan sekaligus sadar betul bahwa Allah adalah sebagai Tuhannya, atau Sang Raja di Atas Raja, dan sadar pula bahwa syariat adalah sebagai titahNya yang wajib dilakukannya. 

Dari penjelasan di atas maka dalam syariat yang di dalamnya merupakan hukum dan aturan-aturan atau tata tertib yang harus dilakukan, maka dalam syariat sesungguhnya menuntut adanya pelaksanaan. Sebagaimana suatu hukum atau aturan yang menuntut adanya realisasi, maka demikian pula dalam syariat membutuhkan adanya pelaksanaan dari hamba-hamba Allah yang telah mengikrarkan diri sebagai hamba Allah. Pelaksanaan syariat ini bisa berupa mengerjakan suatu perintah atau meninggalkan suatu larangan. Segala bentuk pelaksanaan akan syariat inilah yang nanti sering disebut sebagai ibadah, yang ini adalah merupakan hakikat dari tujuan penciptaan manusia. Allah sendiri telah menjelaskan akan hal itu dalam ayatNya:

"Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (Q.S. Adz-Dzariyat: 56).

Dari ayat di atas dapat ditarik penjelasan lebih lanjut bahwasanya eksistensi dari penciptaan manusia adalah untuk beribadah, tunduk dan menyembah Allah. Tetapi masih perlu dipahami bahwa ayat ini tidaklah menuntut kepada manusia untuk selalu dan selalu melakukan shalat, berdzikir atau puasa tanpa mengerjakan hal-hal yang lain. Ibadah yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah ibadah dalam format yang umum, yaitu segala sesuatu yang mempunyai orientasi kepada Allah. Dengan kata lain, ibadah di sini adalah segala bentuk tindakan atau aktifitas manusia selagi itu diorientasikan pada tujuan akhir yaitu Allah, maka hal tersebut adalah dalam kategori ibadah. Jadi dengan demikian ibadah bukan hanya meliputi shalat lima waktu, puasa bulan ramadhan, zakat dan haji sja, tetapi juga termasuk ibadah adalah menolong orang, berbuat baik kepada orang lain, berbakti kepada orang tua, memberi senyum pada orang lain, atau bekerja untuk mencari nafkah guna mencukupi kebutuhan hidup bagi anak dan istri. Hal ini sangat perlu dipahami karena itulah pengertian sesungguhnya dari syariat.

Ada satu kecenderungan dari pola hidup dan perilaku yang cenderung salah dalam memahami arti ibadah. Di mana ibadah hanya diartikan sekaligus dipahami hanya sebata ibadah-ibadah ritual seperti shalat, puasa dan dzikir, dan yang selain itu tidak. Jelas pandangan yang seperti ini adalah tidak benar. Dan kecenderungan seperti ini ternyata masih banyak dijumpai pada lapisan bawah dari masyarakat awam juga sebagian praktisi sufi, terutama para pemula yang ingin mendalami dan menyelami dunia tasawuf. Banyak di antara mereka yang meninggalkan keluarga begitu saja, tidak mau bekerja memenuhi kebutuhan keluarganya, meninggalkan segenap tanggungjawab untuk pergi mengasingkan diri, lari dari kehidupan nyata untuk melakukan pendekatan dengan Allah. Satu sisi dia berlari menuju Allah, tetapi di sisi lain dia telah meninggalkan jejak-jejak dosa lantaran menelantarkan sebuah amanah yang diberikan kepada Allah. Karena itulah, para sufi harus memahai bahwa pendekatan yang dilakukannya kepada Allah jangan sampai salah dan pada akhirnya hanya akan menyisakan kegagalan berspiritual yang tentu saja dampaknya akan sangat besar bagi kehidupannya.

6 komentar:

  1. jadi ibadah harus mencakup semua lini kehidupan ya kang?
    nggak hanya ritual
    kadang lihat sendiri di tetangga yg katanya sudah lekat dg dunia spiritual malah ninggalin kewajibannya thdp keluarga, sangat mencerahkan kultumnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya bgitu kang...kadang kita memang melihat hal kcil dipandang tdk bs memberikan nilai ibadah, padahal saking bisany tinggal niat kita :)

      Delete
  2. "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (Q.S. Adz-Dzariyat: 56). Ini yng ku ingat...tapi Jin bisa menguasain manusia juga ya..?

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa...manusia juga biasa menguasai manusia... :)

      Delete
  3. jadi seperti ini ya kang ibadah itu sangat luas ya. selama itu menuju Alloh itu termasuk ibadah ya kang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar mas mangadul...selama niat kita untuk ibadah, semua bentuk kebaikan akan dinilai sebagai ibadah

      Delete