Saturday, November 28, 2015

Filled Under:

Biografi Terlengkap Guru Sekumpul (KH. Zaini Abdul Ghani)

www.majeliswalisongo.com - Biografi KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani Atau Guru Ijai Sang Mursyid Thariqah Sammaniyah - Guru Zaini Ghani Martapura - Siapakah yang tidak tahu dengan sosok KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani atau lebih dikenal dengan Guru Ijai ? Setiap muslim nusantara khususnya muslim di pulau Kalimantan Selatan, terlebih di Martapura, pasti tahu akan sosok ulama besar Indonesia ini. Kebesaran dan kemuliaan nama beliau senantiasa mengharum hingga detik ini walaupun beliau telah meninggal pada tahun 2005 yang lalu. Lalu bagaimanakah biografi ulama besar satu ini ? Berikut ini admin majeliswalisongo akan membagikan sekelumit mengenai manaqib atau biografi beliau yang sangat agung dan penuh dengan hikmah kebaikan. 
Guru Sekumpul Martapura Atau KH. Zaini Abdul Ghani

KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani atau lebih populer dipanggil dengan nama Guru Ijai merupakan seorang ulama besar di Indonesia yang lahir pada tanggal 11 Februari 1942 di Tunggul Irang, Martapura dan meninggal juga di Martapura pada tanggal 10 Agustus tahun 2005. Ayah beliau bernama Syaikh Abdul Ghani sedangkan ibu beliau bernama Hajah Masliah binti Syaikh Mulia bin Syaih Muhyiddin

Apabila diruntut silsilah dari Guru Ijai ini, maka beliau masih merupakan keturunan Ulama Besar Nusantara yaitu Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Silsilah beliau adalah sebagai berikut: KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani (Guru Ijai) bin Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman bin Muhammad Sa'ad bin Abdullah bin Al-Mufti Muhammad Khalid bin Al-Aalim Al-Allamah Al-Khalifah Hasanuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Sebagai ulama besar yang pernah hidup di nusantara ini, beliau dikenal baik dengan berbagai macam nama besar, yaitu:
  1.  Kyai Haji Muhammad Zaini Abdul Ghani
  2. Guru Ijai atau Guru Izai
  3. Guru Ijai Sekumpul
  4. Tuan Guru
  5. Abah Guru
  6. Qusyairi (nama kecil beliau).
  7. Asy-Syaikh Al-Alim Al-Allamah Muhammad Zaini bin Al-Arif billah Abdul Ghani
  8. Syaikhul Alim Al-Allamah Al-Arif Billah Al-Bahr Al-Ulum Al-Wali Al-Quthb Asy-Syaikh Al-Mukarram Maulana Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-Banjari
 Sedari kecil, Guru Ijai sudah terbiasa dengan pendidikan agama karena memang beliau hidup dan tumbuh besar di dalam lingkungan agamis yang ketat dan teguh dalam menjalankan perintah agama. Karenanya tak heran apabil sejak kecil beliau telah banyak makan garam seputar ilmu-ilmu agama seperti ilmu ketauhidan (ushuluddin), akhlak, al-Quran dan hadist, dan lain sebagainya. Adapun guru pertama beliau tak lain adalah ayah beliau sendiri, Syaikh Abdul Ghani. Selain itu, beliau juga mendapatkan gemblengan keras agar selalu mencintai dan menghormati para ulama khususnya dzurriyahnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Guru Sekumpul Atau Tuan Guru Ijai

Keulamaan dan kewalian beliau telah terlihat dan telah nampak tanda-tandanya sejak beliau kecil. hal ini dibuktikan bahwa menurut riwayat, Guru Ijai ketika masih kecil sering menunggu kedatangan Al-Allim Al-Fadhil Syaikh Zainal Ilmi yang ingin sekali menemui beliau semata-mata hanya untuk bersalaman mencium tangan beliau yang penuh berkah.

Tatkala umur Guru Ijai menginjak usia tujuh tahun, beliau mengikuti pendidikan formal pertamanya di madrasah ibtidaiyah Darussalam, Martapura. Kemudian pada tahun 1955 (usia 13 tahun) beliau melanjutkan ke jenjang MTs, yaitu di Madrasah Tsanawiyah Darussalam, Martapura. Selain itu beliau juga mengenyam pendidikan agama non formal, khususnya kepada Syaikh Seman Mulia yang merupakan pamannya sendiri. Syaikh Saman terhitung menjadi guru beliau yang sangat berperan penting dalam mendidik beliau menjadi sosok ulama besar.

Pendidikan yang diterapkan Syaikh Saman terhitung unik. Beliau hampir tidak mengajarkan ilmu-ilmu agama secara langsung kepada Guru Ijai, kecuali ketika berada di sekolahan. Syaikh Seman mendidik beliau dengan membangun kecintaan kepada para ulama dengan mengajak Guru Ijai kecil bersilaturahmi mendatangi para ulama besar di masanya untuk belajar mengaji kepada mereka, baik itu para ulama di Kalimantan Selatan maupun di Jawa. Salah satunya, Guru Ijai diajak atau diantara oleh Guru Seman kepada Al-Alim Al Allamah Syaikh Anang Sya'rani yang dikenal masyarakat luas sebagai seorang muhaddits dan seorang yang ahli dalam ilmu tafsir.

Walau Syaikh Seman Mulia seringkali tidak langsung mengajarkan ilmu keislaman kepada Guru Ijai, akan tetapi beliau menjadi seorang pendidik yang sangat disiplin. Ada diceritakan bahwa suatu ketika Guru Ijai kecil ingin sekali bermain ke pasar seperti kebanyakan anak-anak seusianya. namun saat akan memasuki pasar tiba-tiba pamannya, Syaikh Seman, berada di hadapannya dan memerintahkannya untuk segera pulang. Anehnya, orang-orang yang berada di pasar tidak ada seorang pun yang melihat Syaikh Seman. Akhirnya Guru Ijai pulang kembali ke rumah.
Guru Sekumpul: Wali Besar Di Zamannya

Sosok Guru Ijai merupakan sosok yang bisa dikatakan sangat menonjol dan sangat mumpuni di bandingkan dengan anak kebanyakan di usianya. Bagaimana tidak, beliau di umur yang masih sangat belia, yaitu tujuh tahun, sudah hafal al-Quran dan pada umur sembilan tahun sudah hafal tafsir Jalalain yang sangat terkenal di dunia islam itu. Kemudian pada usia kurang dari sepuluh tahun, beliau sudah mendapatkan anugerah dari Allah mendapatkan khususiyah berupa Kasyaf Hissi atau yang seringkali diartikan sebagai anugerah berupa kemampuan melihat dan mendengar apa yang ada di dalam atau yang terdinding.

Karena sudah mendapatkan pendidikan agama dan kedisplinan tingkat tinggi, pada akhirnya Guru Ijai menjadi ulama besar di masanya dan menjadi rujukan dan tempat bertanya bagi sebagian besar muslim di Indonesia khususnya di Martapura dan sekitarnya.

Beliau tidak pernah jemu memberikan nasihat yang sangat berharga yang patut kita renungi dan kita amalkan ajaran-ajaran beliau. Diantara sekian banyak ajaran beliau yaitu tentang karamah. Menurut beliau, kita jangan mudah tertipu dengan orang-orang yang mengaku memiliki karamah. Sebab menurut beliau, karamah itu bukan ilmu yang dapat dipelajari. Akan tetapi karamah tiada lain merupakan anugerah dari Allah ta'ala yang dikhususkan kepada hamba-hambaNya yang bertakwa kepada Allah. Karena bukanlah suatu keahlian atau skill, maka kita jangan sekali-kali beribadah kepada Allah hanya dengan niat menginginkan hal itu semua.

Tuan Guru Ijai juga pernah memberikan nasihat penting lainya, diantaranya yakni sebagai berikut, bahwa kita diperintahkan untuk menghormati para ulama khususnya kedua orang tua kita. Senantiasa berbaik sangka atau husnudzan kepada setiap muslim. Senantiasa dermawan dan manis muka. Senantiasa menjaga diri dari menyakiti orang lain. Senantiasa memberikan maaf apabila ada orang lain yang berbuat salah kepada kita. Senantiasa menjaga diri agar jangan bermusuhan dengan seorangpun. Senantiasa menjaga diri dari sifat tamak, rakus, serakah dan sebangsanya.  Senantiasa berpegang teguh kepada Allah ta'ala, agar hajat kita terkabul. Beliau juga menasihati bahwa kita harus yakin keselamatan itu pada kebenaran.
Guru Ijai Bersama Habib Anis Solo

Dalam perjalan dakwahnya, Syaikh Zaini memusatkan dakwahnya di majelis pengajian Mushala Ar-Raudhah. Di majelis ini ribuan bahkan puluhan ribu santri dan jamaah datang dan istiqamah mengaji kepada beliau. Banyak sekali yang datang mulai dari daerah Martapura Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Pulau Jawa, hingga dari mancanegara seperti dari Malaysia, Brunei, Singapura, dan lain sebagainya. Selain itu pengajian beliau juga banyak dipenuhi oleh para habaib yaitu dzuriyat atau keturunannya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Dalam perjalanan dakwahnya di Mushala Ar-Raudhah, Guru Ijai mengadakan pengajaran khusus untuk mengkaji kitab Ihya' Ulumiddin, pembacan burdah, pembacaan maulid azab, pembacaan dalailul khairat, Ratibul Hadad, istighfar berjamaah, dan lain sebagainya. 

Guru Ijai juga dikenal sebagai seorang mursyid tarekat Sammaniyah yang memiliki ribuan bahkan puluhan ribu murid. Beliau juga seorang penulis yang produktif. Diantara kitab karya tulis beliau adalah:
  1. Nubdzatun Fi Manaqibil Imamil Masyhur bil ustadzil A'dzam Muhammad bin Ali Ba'alawi
  2. Ar-Risalah An-Nuraniyah Fi Syarhit Tawasulatis Samaniyah
  3. Manaqib Asy-Syaikh As-Sayyid Muhammad bin Abdul Qadir Al-Qadiri Al-Hasani As-Samman Al-Madani
  4. Risalah Mubaraqah
 Adapun guru-guru beliau adalah sebagai berikut:
  1. KH. Aini Kandangan
  2. Al-Alim Al-Fadhil Al-Hafidzh Syaikh Nashrun Thahir
  3. Al-Alim Syaikh Salman Jalil. Beliau merupakan seorang pakar dalam ilmu falak dan faraidh. Di masa tuanya, Syaikh Salman ini berguru kepada Guru Ijai, sebuah contoh dari seorang ulama besar yang tidak malu untuk berguru kepada muridnya.
  4. Al-Alim Al-Allamah Syaikh Seman Mulia
  5. Al-Alim Al-Fadhil Husain Qadri
  6. Al-Alim Al-Fadhil Syaikh Salim Ma'ruf
  7. Al-Alim Al-Fadhil Asy-Syaih Sya'rani Arif
  8. Syaikh Syarwani Abdan Bangil (Guru khusus/guru suluk)
  9. Al-Alim Al-Allamah Asy-Syaikh Muhammad Amin Kutbi (Guru khusus/guru suluk)
  10. KH. Tubagus Muhammad Falak Bogor
  11. Syaikh Yasin bin Isa Padang Makkah
  12. Syaikh Hasan Masyath
  13. Syaikh Ismail Al-Yamani
  14. Guru Sekumpul Beserta Kedua Putranya
  15. Syaikh Abdul Qadir Al-Barr
Tuan Guru Ijai hidup selama 63 tahun. Pada awal Agustus 2005 beliau sakit dan sempat dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura selama 10 hari. Pada tanggal 9 Agustus beliau tiba di bandar Udara Syamsuddin Noor Banjarbaru dengan menggunakan pesawat carter F-28 pukul 20.30 malam. Akhirnya pada tanggal 10 Agustus 2005 hari rabu pagi pukul 05.10, Tuan Guru Ijai menghembuskan nafas terakhirnya di kediamannya yang sekaligus merupakan komplek pengajian Ar-Raudhah. Beliau meninggal pada usia 63 tahun akibat komplikasi gagal ginjal. Pada hari Rabu sore, pukul 16.00 beliau dishalati di mushala Ar-Raudhah. 
Makam Guru sekumpul

Masyarakat Kalimantan Selatan khususnya Martapura berduka dengan duka yang sangat mendalam. Hal ini bisa dilihat dari keadaan pasar Martapura yang biasanya ramai di pagi hari mendadak menjadi sepi dan semua kios serta toko ditutup. Begitu pula beberapa kantor dinas, termasuk kantor bupati Banjar. Seluruh masyarakat berkumpul ke kediaman Guru Ijai untuk ta'ziyah dan memberikan penghormatan terakhir kepada beliau. 

Beliau wafat dengan meninggalkan dua putra yang dikemudian hari menjadi penerus beliau, yaitu Syaikh Muhammad Amin Al-Badali dan Syaikh Ahmad Hafi Badali.

Jenazah Guru Sekumpul akan dimakamkan
Jamaah Guru sekumpul yang masih istiqamah hingga kini
Guru Ijai dan Gus Dur

Guru Ijai dan Presiden Soeharto

28 komentar:

  1. masyaAllah, kalau orang baik pasti yang melayat banyak sekali ya..

    ReplyDelete
  2. subhanallah, seorang guru besar yang menjadi sosok penerang bagi umat seagama :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah... benar mas, pelita yang menerangi umat nusantara :)

      Delete
  3. saya sangat suka mengkoleksi foto foto ulama mas, di saya banyak didinding rumah, lengkap sama ulama indonesia bahkan ulama kharismatik aceh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah...semoga dengan mengoleksi foto para ulama, kecintaan kita kepada para pewaris nabi semakin kuat...aamiin :)

      Delete
  4. Berkembangnya syiar islam tidak terlepas dari pendahulu2 dan beliau yang tertera namanya diatas, namun seringkali kita lupa akan jasa besarnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Secara Haqiqi ilmu hanya bersumber dari ALLOHUROBBUL ALAMIN, namun ALLOH memiliki penyambung2 lidah mulai dari Munusia Sempurna yakni Rosululloh SAW , shohabat 4, 25 nabi, Shekh ulama kutub, dan masih banyak yg lainya sampai kiyai dan ustadz, ini yang perlu kita ingat karna dengan jasa beliu beliu kita bisa tahu berapa jumlah huruf hijaiyah bukahkan begitu Kang Santri?

      Delete
    2. cerdas dan super sekali mas...bnar apa yang panjenengan tuturkan tersebut di atas... sipp...trimakasih atas tambahannya

      Delete
    3. Ooo tiang jawi toh kula kinten sempean tiang pundi , Maturnuwun Kang santri

      Delete
    4. panjenengan kinten kulo tiang pundi to ? afrika nopo ? hehehe

      Delete
    5. Aku Demak Kang , Samping Masjid Agung

      Delete
    6. oh ndemak to kang...saya jogja... :D

      mantan saya orang demak..jaman semono :D

      Delete
  5. biografi orang soleh wajib dibaca oleh umat seperti saya yang nol ilmu agamanya agar lebih baik lagi dalam beribadah nya

    ReplyDelete
  6. alhamdulilah kang dengan terbitnya artikel ini saya bisa lebih megenal pegemuka agama yg terdahulu,.,?

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah...semoga bs memberikan manfaat..aamiiin

      Delete
  7. kebetulan sekali saya mengikuti pengajian beliau, dan memang seorang kharismatik dan sangat disegani dalam hal ilmu agama, karena kerendahan hati beliau. semoga selalu mendapat berkah kemulyaan bagi guru ijai....amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah...kalau sedang ikut pengajian di raudhah dan ziarah ke makam beliau tolong sy titip salam ke guru ijai...assalamualaikum ya waliyallah... :)

      Delete
  8. Subhanallah..Idola ulun banar ini..hehee

    ReplyDelete
  9. Beliau sosok ulama kharismatik bukan hanya di Indonesia bahkan dunia,ulam bedar asal hadramaut pun mengakui sosok kewalian beliau yang wajib di hormati,pada saat haul beliau ratusan ribu orang berbondong-bondong untuk menghadiri haul beliau

    Kita harus menghormati beliau karena beliau dzuriat dari Junjungan Alam Nabi Muhammad SAW

    ReplyDelete
  10. Haul Syekh HM. Zaini Abdul Ghani setiap minggu pertama bln Rajab yg dilaksanakan di Sekumpul, Kalimantan Selatan selalu dihadiri jamaah > 700 ribu org, bahkan para Habaib & Ulama dari Mekkah & Hadra Maut berdatangan.. Ya Allah, dgn berkah Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Muliakan lah kami sebagaimana Engkau muliakan Murabbi Mursyid kami Syekh HM. Zaini Abdul Ghani (M. Rizali Yani, MM - Banjarmasin)

    ReplyDelete
  11. Subhanallah Allah telah memuliakan dan meninggikan derajat hamba-hamba-Nya yang taat seperti beliau (Alm) Guru ijai, sungguh kami orang yang awam dari ilmu agama tapi kami punya cinta kepada para Ulama.

    ReplyDelete